Kamis, 26 Maret 2009

Ayah Bunda, Inilah Jalan Kita



Allah Mahatau bahwa dia adalah anak yang menyayangi Ibu dan Ayahnya. Sayang karena Allah. Bukan semata sayang karena nurani, namun Allah yang memerintahkannya untuk merendahkan “naungan” kasih sayang terhadap mereka berdua. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “ Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (Terjemah QS. Al-Isra’ : 24)



DIA Dahulu Semasa Di Buaian Hingga Masa Bersepeda Roda Empat

Dibuai oleh Ibu dan Ayah bergantian-gantian. Ibu adalah wanita penyabar yang rendah hati dan tak banyak mengeluh. Ayah pun mencari nafkah tanpa banyak bicara tentang lelahnya dan Ayah begitu sayang padanya.
Dia belum bisa berjalan, baru belajar berdiri. Berulang kali melangkah, sebanyak itu pula terkantuk. Akan tetapi tangan Ayah selalu mengawasi dan siap menahannya agar tak terjembab ke lantai. Jangan sampai ada luka, walau sekedar segores lecet.
Ibu mengetahui karena hidung yang tak mampu bernapas lega. Dia sedang pilek. Ibu tak tahan melihatnya kesakitan, maka Ibu pun menyedot ingus dari kedua lubang hidung itu dengan mulut Ibu. Betapa sayang Ibu padanya.
Kala hari libur tiba, Ibu menyempatkan waktu mengajarinya menjaga keseimbangan bersepeda roda empat (dua ban di depan dan belakang, dau ban di samping kiri dan kanan sebagai pembantu penjaga keseimbangan). Sungguh senang dia bisa mengayuh di jalan yang luas. “Aku bisa bersepeda!: “Tak beberapa lama, akhirnya dia bisa mengendarai sepeda, cukup dengan dua roda. Alhamdulillah...



“Yang Penting Kamu Sudah Berusaha, Nak!”

Hari penerimaan rapor tiba. Dia tak bisa menjadi rangking pertama di kelas. Sungguh muram mimiknya. Akan tetapi, Ibu tak luput menghiburnya, “Tidak perlu sedih. Yang penting kamu sudah berusaha, Nak!” Kembali cerialah dunia!! Dia tak perlu bersedih. Ada Ibu yang senantiasa membesarkan jiwanya, mengajarkannya menegakkan kepala menghadapi dunia, tak melulu bersedih tersungkur di kala gagal namun segera bangkit dan kembali menatap ke depan dengan penuh semangat dan tawakkal pada Allah.
“Jangan pernah takut selama engkau berada dalam kebenaran!!!”. Dia senantiasa ingat pesan yang dlam itu.

Di Negeri Seberang Aku Membelah Angin dan Terik Matahari

“Dia” yang dulu, kini telah menjadi “Aku”. Aku sekarang sudah dewasa, Ibu! Aku sekarang sudah dewasa, Ayah!”.
Di negeri seberang kubelah angin dan terik matahari. Aku berjalan sembari menerjang hantaman hujan. Bahkan, Aku tak boleh jadi penakut? Alhamdulillah, tanganku sempurna berjumlah dua, kakiku sempurna tegap melangkah. Aku tak boleh jadi penakut, bukan? Selalu ada Allah yang akan menolongku dengan rahmat-Nya, selagi aku senantiasa mengesakan-Nya dan bertakwa pada-Nya. Aku memegang prinsip itu.
Ibu dan Ayah, Aku kini berada di dunia baru yang lebih terang. Dunia yang menaungi para orang salih pendahulu kita (as-salafush shali). Aku bahagia dengan duniaini : Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para as-salafush shalih. Bahagia yang dalam, bukan hanya sebatas senang yang sesaat. Aku temukan Islam yang kucari. Inilah dia pegangan hidupku!
Aku berbagi cerita ini sambil menangis...
Kubayangkan kenikmatan abadi yang akan ku peroleh jika aku bisa bertahan dalam kesabaran dan keyakinan akan janji Allah. Pastinya akan banyak ujian yang harus ku lalui, seiring besar pengakuan cintaku pada jalan ini, karena Allah.
Betapa aku berharap Allah senantiasa mengaruniakanku hidayah untuk senantiasa mengingat-Nya. Tak lupa pula kudo’akan Ibu dan Ayah. Semoga Allah senantiasa menyayangi serta menjaga kita dan keluarga kita di dunia dan akhirat. Di dunia, yaitu disaat bumi dan penghuninya sedemikian carut-marutini. Di akhirat, yaitu di saat tak ada lagi pertolongan dan keselamatan selain dari Allah Rabb semesta alam.



Aku Akan Ceritakan Diriku yang Sekarang

Ibu, Ayah, Aku akan bercerita sedikit saja tentang diri anakmu ini sekarang.
Sewaktu kecil, Ayah rajin mengantarku belajar membaca Al-Qur’an pada seorang Ustadzah setiap hari. Tahukah Ibu dan Ayah, kini Aku bukan hanya sekadar belajar membaca Al-Qur’an? Hari-hariku penuh denganharu biru bersama Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh jarang Aku merasa sedih karena dunia. Adapun jika sedih itu datang, pastilah karena maksiat dan dosa yang telah ku perbuat di masa silam. Ibu dan Ayah, sungguh ini adalah jejak-jejak panjang yang kutatap, kelanjutan pijakan-pijakan kecil yang dulu Ibu dan Ayah membantuku untuk menderapnya.
Tahukan Ibu dan Ayah, sekarang aku sudah bisa membaca deretan-deretan huruf Arab dari kitab-kitab para ulama, yang tak bertoreh harakat? Ini adalah buah kesabaran Ibu dan Ayah mengajariku membaca dan menulis semenjak kecil. Berbahagialah atas karunia Allah ini, wahai Ibu dan Ayah yang kusayangi karena Allah...
Akupun tak luput memperbaiki ibadah dan akhlakku. Itulah yang menjadi kesibukan saat ini. Aku juga tak luput mengurusi duniaku, untuk menjaga harga diriku. Sukuplah aku bekerja keras dengan kedua tanganku, agar aku tak menengadah memelas wajahku meminta belas kasih orang lain. Ibu dan Ayah, inilah sekuntum kebahagiaan yang begitu ingin kuceritakan selama ini pada kalian berdua.



Adapun Komentar Mereka, Maka Jangan Terlalu Banyak Diambil Hati

Banyak orang berbisik pada Ibu dan Ayah bahwa anaknya di negeri seberang entah menjatuhnkan dirinya ke lubang sekelam apa sekarang. Ibu dan Ayah berjuang melawan itu semua dan menyakinkan diri mereka sendiri, “Anakku tak seperti sangkaan orang. Dia adalah anak yang bisa dipercaya.”
Aku menangis bukan karena takut pada tatapan aneh pada mnuasia, atau perkataan mereka yang mengiris bagai sembilu. Aku menangis mengingat wajah murung Ibu berhari-hari. Tak lain dan tak bukan, karena Ibu memikirkan aku yang telah berubah.
Ibu kusayang…
Anakmu ini mohon maaf jika akan jujur berbicara. Sunguh akan kupilih kata yang paling indah agar kemurunganmu berubah menjadi merah cerianya sang fajar di garis cakrawala.

Aku Bangga Dengan Jalan yang Kupilih Ini
Ibu dan Ayah,
Jalanku ini bukan jalan baru dan sesat. Inilah jalan yang dahulu berjaya, tetapi kini terasing. Kemuliaan akan kita peroleh, dengan izin Allah, jikakita teguh di atas jalan ini.
Akan ku ceritakan sedikit dari warisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang kujumpai di sepanjang jalan ini:
 Manusia diperintahkan untuk mengesakan Allah dalam tiga perkara: (1) rububiyah, (2) uluhiyah, dan (3) nama-nama dan sifat-sifat Allah.
 Kita diperintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Bukan berdasarkan pemahaman setiap orang [karena jika tolak ukur kebenaran adalah pendapat pribadi, maka pendapat siapakah yang akan kita jadikan tolak ukur???]
 Kita diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah, sebagaimana pula kita diperintahkan untukmemperbaiki akhlak kita, baik kepada khaliq (Allah) maupun makhluk-Nya.
 Kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua dan karib kerabat, menyambung tali silaturrahim dengan mereka, berbuat baik dan tidak mengganggu tetangga serta memuliakan tamu.
 Kita senantiasa dihibur dengan indahnya surga dan bahwa dunia itu tidaklah kekal.
 Kita senantiasa diingatkan tentang siksa neraka jika timbangan keburukan kita nanti lebih berat disbandingkan dengan timbangan kebaikan kita.
 Dengan bekal sebayak itu, bagaimana boleh Aku gegabah dan semena-mena pada Ibu dan Ayah. Dalam menjelaskan sikap yang kupilih ini pun demikian. Sayang dan sabarku karena Allah, jadi penyanggaku untuk mengajak Ibu dan Ayah meniti jalan keselamat an bersamaku.

Biarkan Duni yang Menyampaikannya
Ibu dan Ayah, surat ini mungkin tidak akan pernah benar-benar sampai kehadapan kalian. Tidak di antarkan burung merpati, tidak pula diterbangkan angin.
Surat ini kutitipkan pada dunia. Biarlah mereka yang akan menyampaikan tanda cinta karena Allah ini kepada Ibu dan Ayah.
Semoga Allah melindungi jiwa-jiwa kita dari kebinasaan, di saat manusia menceburkan dirinya sendiri kedalam malapetaka.
Semoga Allah memberikan naungan kepada kita, di hari yang tak ada naungan di sana selain naungan-Nya.
Semoga Allah mengumpulkan Aku, Ibu, Ayah, dan orang-orang yang kita cintai karena Allah, di Firdaus al-A’laa, bersama para Nabi, shiddiqiin, syuhadaa’ dan shalihiin.

Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.
Amien, yaa mujibassa’iliin…



By:Nikah

1 komentar:

Aini Santari mengatakan...

Betapa sulit Buat Berbakti Pada Orang Tua,

Posting Komentar

Design by Nur Aini Visit Original Post chaya-aini.blogspot.com