
Perguruan tinggi di Indonesia harus memberikan dukungan dan sumbangan yang besar kepada daerah di mana dia berada. Mereka harus membuktikan dapat melahirkan lulusan yang bermutu dan relevan dengan pendidikan yang kontekstual dengan kondisi daerah. Perguruan tinggi dituntut melahirkan lulusan yang berwawasan daerah dan berani mengambil sikap inisiatif untuk memaparkan peluang atau memberikan solusi.Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal saat memberikan keterangan pers pada acara Rembuk Nasional Pendidikan 2009 di Pusdiklat Pegawai Depdiknas, Sawangan, Depok, Selasa (24/2/2009). Hadir pada acara Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Sudjarwadi, Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Bejo Sujanto, dan Rektor Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar Idrus A.Paturusi."Pembelajaran yang kontekstual, kewirausahaan, pola kuliah kerja nyata tematik, penelitian dasar dan terapan, serta pengabdian masyarakat akan kita gunakan sebagai tugas penting bagi perguruan tinggi. Kita yakinkan pemerintah daerah supaya jangan ragu mengundang perguruan tinggi untuk mengajak kerja sama," kata Fasli.Kerja sama ini, kata Fasli, dapat diselenggarakan baik pada pendidikan dasar, menengah, ataupun nonformal. Perguruan tinggi, kata dia, bisa mendukung di sektor - sektor seperti ekonomi, infrastruktur, pertanian, dan kesehatan. Kemudian, lanjut dia, untuk menunjukkan bahwa daya saing perguruan tinggi di Indonesia tidak kalah dan juga dilirik orang di dunia maka pemerintah memfasilitasi sejumlah perguruan tinggi. "Dengan kerja keras mereka (perguruan tinggi) tidak lagi melihat standar nasional sebagai rujukan, tetapi sudah berpacu untuk melihat branchmarking standar internasional, " katanya.Menurut Fasli, perguruan tinggi perlu mengasah kemampuan keterampilan (softskill) mahasiswa apapun disiplin ilmunya. Selain itu, mengembangkan program kewirausahaan. Pemerintah, kata dia, menyediakan anggaran sebanyak Rp.108 milyar yang diberikan ke semua perguruan tinggi khusus untuk mengembangkan kewirausahaan. "Sehingga semua mahasiswa kita yang berminat untuk melatih kewirausahaan bisa memakai dana itu," katanya.Sudjarwadi mengatakan, di UGM dikembangkan kegiatan kokurikuler. Melalui program ini, kata dia, mahasiswa dilatih untuk menggunakan ilmu pengetahuannya untuk mengubah sumber daya yang dimiliki sehingga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Mahasiswa belajar tentang pengelolaan produksi baik barang maupun jasa. Kemudian pemasaran manajemen, finansial, dan pelayanan yang bagus secara terus menerus," katanya.Sudjarwadi menyampaikan, bekerjasama dengan negara Korea akan membangun pabrik pengolah briket dari sisa penggergajian pohon sengon di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Dia menyebutkan, sebanyak 1.000 orang yang menggergaji kayu sengon membuang bekas gergajian dalam sehari sebanyak empat kilogram. Dalam satu tahun sisa gergajian sebanyak 1.000 ton. "Produk briket yang dihasilkan akan dipasarkan ke negara di kawasan Eropa," katanya.Kerja sama lainnya, lanjut Sudjarwadi, adalah dalam penanganan limbah sampah. Bersama - sama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan pemerintah Swedia, UGM mengolah sampah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.Bejo mengatakan, semua dosen di UNJ diwajibkan untuk sekolah. Dosen - dosen muda walaupun masih calon pegawai semua dikirim sekolah S2 dan S3 baik dalam maupun luar negeri. Selain didukung sumber pembiayaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, UNJ mengalokasikan anggaran sebanyak Rp.1,6 milyar untuk mendukung biaya sekolah dosen. UNJ adalah perguruan tinggi yang menghasilkan guru dan ikut aktif dalam melaksanakan peningkatan kualifikasi guru. Dari pemerintah kami mendapatkan tugas sertifikasi guru tahun ini sama dengan tahun kemarin sebanyak 18.500 guru untuk disertifikasi. Di samping itu, mendapatkan tugas untuk menyiapkan calon - calon guru dari daerah," katanya.***


0 komentar:
Posting Komentar