Menjelang. tahun pelajaran 2004/2005, dimana-mana orang membicarakan KBK (kurikulum berbasis kompetensi). Para guru SD, SMP dan SMA sibuk mengikuti sosialisasi KBK. Di atas jalan raya di tengah kota terpampang spanduk dari suatu sekolah yang menyatakan siap melaksanakan KBK.
Dan setelah memasuki tahun pelajaran 2004/2005, terpampampang pula spanduk dari suatu sekolah yang menyatakan telah melaksanakan KBK. Toko-toko buku ramai diserbu pembeli. Para pembeli terdiri atas siswa-siswa dari berbagai sekolah dari para orang tua siswa. Mereka berebut mencari "buku-buku KBK" (maksudnya: buku pelajaran yang telah disusun berdasarkan KBK).
Sekolah-sekolah pun didatangi penjual buku. Saking "gila"-nya dengan KBK, penjual buku menunjuk-nunjukkan tulisan "KBK" pada sudut kanan atas setiap kover buku. Tiba-tiba seorang guru mencoba melihat-lihat sebuah buku. Setelah mengernyitkan alis dan dahinya, guru itu berkata kepada penjual buku, "Pak, ini yang KBK cuma kovernya. Isinya masih kurikulum lama."
Mendadak penjual buku tersipu-sipu. Namun demikian, ia sempat memberikan jawaban yang diplomatis, "Saya tidak tahu. Saya hanya ditugasi menjual."
Demikianlah KBK yang dilaksanakan mulai tahun pelajaran 2004/2005 itu. Sungguh, KBK benar-benar bergema di mana-mana.
Namun, di tengah bergemanya KBK itu, ada kepedihan yang diderita oleh seorang guru SD negeri di pedesaan. Dia bertugas sebagai guru kelas di kelas VI (enam) yang pada tahun pelajaran 2005/2006 memang masih menggunakan kurikulum lama. Sebagaimana kita ketahui, penerapan KBK di SD dilakukan secara bertahap, yakni tahun pelajaran 2004/2005 untuk kelas I dan IV tahun pelajaran 2005/ 2006 untuk kelas I dan II serta kelas IV dan V, dan pada tahun pelajaran 2006/2007 barulah untuk seluruh kelas.
Meskipun masih menggunakan kurikulum lama (yang konon jauh lebih mudah daripada KBK), guru tersebut mengalami kesulitan yang begitu besar. Pasalnya? Cobalah simak suratnya yang ditujukan kepada Bapak Pengawas TK/SD seperti di bawah ini.
***
Yth. Bpk. Pengawas
Alangkah sulit dan beratnya menjadi guru. hingga menjelang purna tugas ini, kami belum pernah berhasil dengan baik dalam mengemban tugas sebagai guru. Padahal, sejak kecil kami bercita-cita menjadi guru. Dan setelah tercapai cita-cita menjadi guru, profesi guru ini benar-benar kami cintai. Kami bekerja maksimal, baik dalam keberdirian kami di tengah para siswa maupun dalam hal adrninistrasi kelas. Setiap tahun pelajaran yang kami lalui, tidak pernah sepi dari les (pemberian tambahan pembelajaran di luar jam sekolah) secara gratis, dan juga tidak secangkir kopi pun yang diberikan oleh sekolah kepada kami. Kami bekerja memberikan les seolah-olah kami sendirian di muka bumi ini dalam arti tanpa rekan dan tanpa atasan langsung. Semua itu demi tugas, demi kewajiban, demi "pengabdian" kata orang, dan demi cinta kami kepada para siswa. Di samping mengotot studi mandiri, kami pun menempuh beragam pendidikan formal (hingga mengantongi 13 ijazah negeri dan 2 ijazah swasta/kursus) kendati tidak sampai menyentuh S2 apalagi S3. Semua itu demi - kata orang - untuk dapat menjadi guru yang profesional. Tetapi apa yang terjadi? Menurut "temuan" kami di "alam angan", guru profesional hanya ada dalam "jagat keinginan dan cita-cita". Ataukah diri kami yang terlalu celaka, hingga menjelang pensiun ini masih juga belum profesional? Betapa sial diri ini, pengalaman menjadi guru yang bertahun-tahun lamanya, ternyata tidak meningkatkan kompetensi profesional, tetapi justru hanya menumpuk-numpuk beragam kesalahan dalam proses pembelajaran....
Ocehan kami di atas, mungkin terkesan sebagai memuji diri. Biarlah, itu kesan pembaca, barangkali. Tetapi yang jelas, kami hanya bermaksud menunjukkan betapa kami telah berusaha keras untuk menjadi guru yang sukses, tetapi hasilnya ternyata selalu jauh dan jauh sekali dari harapan.
Meski kami belum pernah berhasil dengan baik dalam melaksanakan tugas sebagai guru, tidaklah seperti tahun pelajaran 2005/2006. Sungguh, tahun pelajaran 2005/2006 adalah tahun kepedihan hati yang luar biasa. Kami bertugas sebagai guru kelas di kelas VI (enam). Siswa kami hanya 4 orang : 3 orang laki-laki dan 1 orang perempuan. Dengan jumlah siswa yang hanya sedikit, dan dengan guru yang - konon - "berpengalaman", mestinya pembelajaran berhasil dengan gemilang. Tetapi apa yang terjadi? Amatlah
sulit untuk dipaparkan secara sempurna dengan menggunakan kata-kata.
Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, ambillah dalam hal "membaca" saja, tidak satu siswa pun yang dapat dikategorikan sebagai baik. Apalagi dalam berbagai mata pelajaran yang lain.
Pernah kami cobakan cara berikut:
Kami siapkan soal-soal IPS yang kami ambil dari buku paket.
Pada setiap soal, kami tunjukkan halaman buku paket yang memuat jawabannya.
Siswa-siswa mengerjakan (menjawab) soal-soal tersebut secara tertulis sambil membaca-baca buku paket.
Bagaimana hasilnya? Morat-marit! Berikut ini kami ambilkan satu contoh saja, kami pilihkan yang paling mudah.
Soal: Apakah bahasa resmi Zaire? (Carilah jawabannya pada halaman 69)
Jawaban Siswa : adalah bahasa Prancis. Kebanyakan penduduk Zaire menganut kepercayaan asli, dan agamanya adalah Kristen dan Islam.
Demikianlah kelemahan siswa dalam mata pelajaran IPS (yang berpangkal dari kelemahan membaca?), demikian pulalah kelemahannya dalam mata pelajaran IPA dan lainnya. Terlebih-lebih dalam mata pelajaran matematika.
Dalam matematika, siswa tidak dapat menemukan hasil dari 8+6 kecuali setelah berlama-lama menekuk-nekuk jari tangannya. Siswa tidak menguasai perkalian dasar. Perkalian semisal 9 x 8 dan 6 x 7, tak dapat mereka tentukan hasilnya. Siswa juga tidak dapat menentukan hasil dari 12:4. Apalagi dalam hal soal cerita. Siswa tidak mampu memahami isinya, dan bahkan tidak tahu apa yang ditanyakan dalam soal itu.
Pernah siswa kami tugasi mengerjakan soal. Dalam soal itu disajikan sebuah tabel tentang nilai ulangan matematika siswa kelas VI suatu SD. Di bawah tabel itu terdapat perintah, "Gambarlah diagram batang dari data tersebut!"
Nah, apakah yang lantas dilakukan oleh para siswa? Ternyata mereka tidak membuat diagram batang. Jawaban (tertulis) mereka adalah sebagai berikut:
- Siswa pertama menjawab, "26."
- Siswa kedua menjawab, "69."
- Siswa ketiga menjawab, "Banyaknya siswa."
- Siswa keempat menjawab, "Banyaknya nilai."
Demikianlah sekelumit dari kondisi kelas VI yang kami ditugasi menggolkan mereka dalam ujian nasional mendatang. Lantas, apa yang dapat kami lakukan? Paling-paling jawabannya adalah : sebatas yang dapat kami lakukan. Ya, itu tentu, tentu itu! Tak perlu berpikir panjang untuk menjawab demikian. Tetapi yang akan melangkah ini tetaplah menghela napas panjang: bagaimana ... bagaimana ...
Sebatas yang dapat kami lakukan. Oke! Dan kami adalah telah, sedang, dan akan - insya Allah - melakukannya. Kami memberikan tambahan pembelajaran di luar jam sekolah : sore atau malam hari bergantung kepada kesediaan/kesanggupan/pilihan para siswa sendiri. Jadi, les berjalan dengan tidak menentu : adakalanya sare hari, terkadang malam hari, dan tempo-tempo libur. Semua itu adalah agar para siswa belajar sesuai dengan keinginan mereka sendiri : belajar sore, belajar malam, dan diselingi libur setelah merasa penat.
Namun demikian, perjalanan untuk meraih kemajuan ternyata luar biasa tertatihtatihnya. Jerih payah kami selama ini belum membuahkan hasil sama sekali! Bayangkan,
selama enam bulan, tak ada perubahan, siswa tetap lamban, seperti di awal tahun pelajaran...
Bpk. Pengawas yang kami hormati! Mengapa surat ini kami tujukan kepada Bapak, dan tidak kepada kepala sekolah? Hal ini adalah karena kami telah terlalu sering mengeluhkan kelambanan siswa kami kepada kepala sekolah. Lantas apa perlunya andai surat ini kami sampaikan kepada kepala sekolah. Harap maklum.
Kiranya tak perlu diperpanjang lagi. Kami mohon maaf atas segala hal yang kurang tidak berkenan di hati Bapak.
Sekian.
Hormat kami,
***
Demikianlah surat yang memelas, yan.g ditulis oleh seorang guru yang sedang terenyuh dan disampaikan kepada pengawas. Kiranya tidaklah mustahil bahwa kondisi para siswa SD di desa-desa masih banyak yang sangat rawan untuk "di-KBK-kan" .
Jangankan di desa, di kota pun ada pula SD negeri yang belum siap melaksanakan KBK. Seorang kepala SD negeri di sebuah kota besar (baca keras : kota besar!) mengatakan, "KBK itu untuk orang Amerika. Di kita belum siap, baik siswa maupun gurunya. Di sekolah kami, tidak kami laksanakan KBK. Yang penting siswa-siswa diberi pelajaran membaca, menulis, dan berhitung!"
Nah, mereka yang demam KBK, baik yang mempunyai alasan kuat dengan rasio yang sehat, maupun yang sekadar mengikuti musim yang sedang marak, kiranya perlu menoleh ke segala penjuru dan mempertanyakan, "Pilihan yang tepatkah KBK sebagai kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah kita?"
Sumber: Media No. 01 / Th. )CXXVI l Maret 2006
Selasa, 31 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar